Diberdayakan oleh Blogger.
Banyak Membaca Banyak Tau!!!
Pasang Iklan Gratis
Pasang Iklan Gratis

KESEHATAN MENTAL PADA LANSIA (LANJUT USIA)

 Definisi Aging (proses penuaan)
            Aging atau penuaan berhubungan dengan adanya dua fenomena, yaitu penurunan fisiologik tubuh dan peningkatan terjadinya penyakit (Fowler, 2003). Dengan kata lain, aging adalah suatu proses fisiologis yang akan di alami oleh semua mahluk hidup (Wibowo, 2003).
            Definisi aging menurut American Academy of Anti-Aging Medicine (A4M) adalah kelemahan dan kegagalan fisik-mental yang berhubungan dengan aging normal disebabkan oleh disfungsi fisiologik, dalam banyak kasus dapat diubah dengan intervensi kedokteran yang tepat (Klatz, 2003). Anggapan dahulu bahwa menjadi tua memang hal yang wajar, alamiah dan tidak bisa diintervensi, tetapi hal ini dipatahkan sejak penelitian Rudman yang dipublikasikan bahwa menjadi tua adalah suatu penyakit yang bisa dicegah dan dalam batas tertentu bisa disembuhkan (Djuanda, 2005).
            Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.

 Perkembangan Usia Lanjut
            Memahami perkembangan usia lanjut (lansia) adalah bentuk pembelajaran sekaligus pengorbanan pada orangtua karena usia lanjut bagi sebagian orang adalah salah satu hal yang tidak diinginkan. Ada perasaan takut, takut merepotkan anak, tak bisa mengurus diri sendiri, jadi pemicu masalah dan banyak hal lainnya.
             Bagi setiap orang yang sedang mengalami proses perkembagan menuju usia lanjut perlu memahami segala perubahan. Perubahan yang barangkali tidak dipahami dan tidak disadari. Lansia akan membuat seseorang mengalami penurunan semua fungsi indera, lansia juga akan menurunkan kemampuan motorik. Bagi orang-orang disekitarnya, yang memiliki orangtua atau kakek dan nenek yang menapaki lansia juga perlu memahami perkembangan mereka. Pemahaman tersebut akan sangat membantu mengurusi dan memberi perhatian lebih pada anggota keluarga yang memasuki usia lanjut. Oleh karena itu, menurut Havighurst (Hurlock, 1999) sebagian tugas perkembangan usia lanjut (lansia) lebih banyak berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang daripada kehidupan orang lain. Memahami hal ini akan sangat bermanfaat untuk yang sedang memasuki tahap perkembangan lansia. Hal itu juga akan sangat berguna bagi yang memiliki anggota keluarga yang dalam masa lansia. Adapun tugas perkembangan tersebut antara lain:
1. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
Hal ini sering diartikan sebagai perbaikan dan perubahan peran yang pernah dilakukan di dalam maupun di luar rumah. Mereka diharapkan untuk mencari kegiatan sebagai pengganti tugas-tugas terdahulu yang menghabiskan sebagaian besar waktu kala mereka masih muda.
2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income (penghasilan) keluarga
Pada usia ini, lansia sudah memasuki masa pensiun dan tidak bekerja lagi, sehingga pemasukan yang ada hanya berasal dari dana pensiun maupun dari pemberian anak-anak mereka.
3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
Sebagaian besar orang lansia perlu mempersiapkan dan menyesuaikan diri dengan peristiwa kematian suami atau istri. Kejadian seperti ini lebih menjadi masalah dengan peristiwa kematian suami atau istri. Dimana kematian suami berarti berkurangnya pendapatan dan timbul bahaya karena hidup sendiri dan melakukan perubahan dalam aturan hidup.
4. Membentuk hubungan dengan orang-orang yang sesuai
Pada lansia, mereka membangun ikatan dengan anggota dari kelompok usia mereka, untuk menghindari kesepian akibat ditinggalkan anak yang tumbuh besar dan masa pensiun. Walaupun begitu, tidak disarankan untuk menitipkan mereka ke panti jompo. Ini adalah saatnya bagi orang-orang disekitarnya untuk merawat dan mengurangi rasa kesepiannya. Membangun hubungan emosional dan sosial dengan mereka akan mengurangi rasa kesepian yang kadang mereka rasakan.


5. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
Menyadari bahwa menurunnya kesehatan dan fungsi-fungsi fisik, pada masa lansia mereka berusaha untuk mempertahankan dan mengatur kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan kesehatan, yaitu berolahraga maupun mengatur pola makan.
6. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes
Pada lansia, individu mengalami perubahan peran. Dimana, para lansia mempunyai pengalaman lebih daripada orang yang lebih muda, sehingga peran lansia biasanya diminta untuk memberi pendapat, masukan ataupun kritikan, dan partisipasi lansia terhadap kehidupan sosial. Pemberian peran tersebut akan membuat kesehatan fikir dan fisiknya akan terjaga baik. Termasuk mengurangi percepatan kepikunan. Lansia (usia lanjut) akan dialami oleh tiap orang. Masa itu adalah takdir yang tak bisa ditolak oleh siapapun. Oleh karena itu, pemahaman terhadap perkembangan lansia (lanjut usia) sangat bermanfaat merawat dan memberi perhatian pada mereka. Juga akan berguna bagi kita nanti saat memasuki masa lansia.

 Teori Ericson Usia Lanjut
Tahap Erikson                       : Integrity vs Despair (Integritas dan Kekecewaan)         
Periode Perkembangan         : masa akhir dewasa (60 tahunan)
·       Karakteristik :
Masa untuk melihat kembali apa yang telah kita lakukan dalam kehidupan kita, harapan positif.
1.     Kehidupan baik          : merasa puas / integritas.
2.     Masa lalu negatif       : keputusasaan.
3.     Memaknai yang terjadi, merevisi dan memperluas pemahaman. Pada tahap ini, memiliki tiga makna biologis, emosional dan terpencil.
Masa ini dimulai sekitar usia 60, ketika seseorang mulai meninggalkan masa-masa aktif di masyarakat dan bersiap untuk hidup lebih menyendiri.  Sangat berbeda dengan rata-rata orang yang ketakutan dengan datangnya usia tua, maka bagi Erikson, ini adalah masa yang sama pentingnya dengan fase-fase sebelumnya.  Bahkan, masa ini merupakan masa yang paling penting karena ini adalah masa terakhir di mana kita harus bersiap untuk meninggalkan dunia ini. Tugas kita saat ini adalah mengembangkan "ego integrity", Integritas Diri, suatu rasa harga diri untuk tidak takut mati karena telah melalui hidup.
Lawan dari rasa integritas diri ini adalah Despair atau rasa putus asa. Orang-orang yang putus asa pada masa usia lanjut ini ditandai dengan :
1.     meluapnya rasa jijik pada diri mereka sendiri,
2.     jijik terhadap kegagalan mereka,
3.     jijik dengan cara mereka menyia-nyiakan hidup. 
4.     Orang-orang ini seringkali penuh amarah pada mereka yang juga gagal, menganggap itu hasil kebodohan Orang-orang itu sendiri.
5.     Namun juga marah dan iri pada yang berhasil.
Intinya, sebagian besar Orang-orang ini putus asa dan memandang hidup dengan negatif. Kenapa putus asa? karena masa-masa ini memang penuh dengan hal-hal yang membuat kita bisa sengsara secara emosional.  Fisik yang makin melemah membuat banyak orang lanjut usia makin tergantung pada orang lain. Celakanya ketergantungan ini dibarengi oleh berkurangnya kemampuan cari uang dan menurunnya manfaat bagi orang lain.
Wanita mengalami hal khusus dengan datangnya menopause dan banyak yang melihat datangnya menopause ini sebagai masa pintu gerbang menuju masa tua yang dipenuhi oleh penyakit-penyakit seperti kanker payudara,  kanker  rahim, dan osteoporosis. Lelaki yang hidup dari kepedulian dan kepekaan orang sekeliling sebagai pencari uang kini hilang kemampuan cari uangnya padahal keinginan diperdulikan semakin besar. Kemudian, teman dan saudara mulai menghilang, ada yang meninggal, ada yang pindah diboyong keluarganya ke tempat lain dan ada yang levelnya sudah ganti (jadi jauh lebih kaya atau jauh lebih miskin) sehingga menjadi sulit berhubungan lagi.
Paling berat adalah memory dan regret.  Sangat jarang ada orang tua yang tidak menyesali masa lalunya, masa di mana mereka seharusnya melakukan hal yang seharusnya. Rata-rata mereka berharap melakukan hal-hal yang kini akhirnya berdampak buruk seperti:
1.     bersekolah lebih giat,
2.     tidak berteman dengan si A,
3.     lebih sayang pada anak atau menantunya, dll.
Yang unik dari kenangan ini adalah bahwa mereka tidak punya kesempatan untuk memperbaiki sehingga ada penyesalan tapi tidak ada pengobatan. Mereka yang berhasil mengembangkan Ego Integrity, masih memiliki penyesalan tetapi mereka telah berdamai dengan masa lalu, menerima bahwa ada hal yang bisa mereka lakukan dengan lebih baik, dan ada hal yang mereka telah lakukan sebaik mungkin, dilihat dari konteks saat itu.   Dan mereka ini siap apabila harus meninggal. Kalau mereka yang "Despair" atau putus asa ini memiliki rasa "Disdain" atau jijik pada hidup, maka mereka yang putus asa ini menginginkan keluarganya berhasil supaya tidak seperti dia. Tetapi caranya agak cenderung memaksa, memarahi dan menyesali sehingga membuat orang-orang di dekatnya kebingungan melayaninya karena melakukan kesalahan terus.

 Faktor-faktor kesehatan mental usia lanjut
Kesehatan mental secara langsung maupun tidak langsung  dipengaruhi juga oleh factor biologis yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental diantaranya otak, system endokrin, genetik, sensorik. Kesehatan mental merupakan suatu komponen mayor dari keberhasilan proses menua bersama dengan kesehatan fisik pendapatan yang adekuat dan support system yang adekuat (keluarga, teman, kegiatan agama dan tetangga) (Anette G.L., 1996).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
·        Pertama-tama perubahan fisik khususnya organ perasa.
·        Kesehatan umum
·        Tingkat pendidikan
·        Hereditas
·        Lingkungan
 Masalah-masalah kesehatan mental pada usia lanjut :
1.     Menurut wahyudi nugroho, dalam keperawatan gerontology, gangguan mental pada lansia sebagai berikut :
§  Agresi
§  Kemarahan
§  Kecemasan
§  Kekacauan mental
§  Penolakan
§  Ketergantungan
§  Depresi
§  Manipulasi
§  Mengalami rasa sakit
§  Kehilangan rasa sedih dan kecewa.
2.     Menurut Anetta G.L. dalam gerontology nursing :
a)     Depresi
Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam.
Pengkajian pada pasien depresi akan diperoleh data sebagai berikut :

·        Pandangan kosong
·        Kurang/hilangnya perhatian diri, orang lain/lingkungannya.
·        Inisiatif menurun
·        Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi
·        Aktifitas menurun
·        Kurang minat nafsu makan
·        Mengeluh tidak enak badan dan kehilangan semangat, sedih atau cepat capek disepanjang waktu, mungkin susah tidaur disiang hari.
b)     Bunuh diri
Faktor resiko terjadinya bunuh diri pada usia lanjut :
·        Umur/usia yang terlalu tua (75 – 85 tahun)
·        Social ekonomi yang rendah
·        Laki-laki
·        Hidup sendiri
·        Sakit fisik
·        Nyeri kronis
·        Kematian pasangan
·        Kehilangan yang lain
·        Penyalahgunaan zat
·        Riwayat keluarga dengan bunuh diri
·        Ketakutan
·        Isolasi social
·        Gangguan tidur kronis
·        Depresi
c)      Schizophrenia
d)     Paranoid
Sering terjadi pada perempuan yang tidak diketahui sebabnya. Terjadi gangguan keseimbangan penglihatan dan pendengaran isolasi, tidak percaya, merasa tidak berdaya ketergantungan perawatan diri.
·        Ketidakseimbangan interaksi social
·        Kecemasan
Adalah perasaan yang tidak menyenangkan atau ketakutan yang tidak jelas dan hebat. Ini terjadi reaksi terhadap suatu yang dialami oleh seseorang. Kemungkinan data yang diperoleh pada pengkajian :
·             Bicara cepat
·             Meremas-remas tangannya
·             Berulang-ulang bertanya
·             Tidak mampu berkonsentrasi atau tidak mengerti penjelasan-penjelasan
·             Tidak mampu menyimpan informasi-informasi yang diberikan
·             Gelisah
·             Keluhan-keluhan badan
·             Kedinginan dan telapak tangan lembab
e)     Retardasi mental
f)      Alzeimer
 Contoh Kasus
            Usianya sudah 81 tahun lebih, tetapi secara umum kondisi fisiknya masih baik. Badannya masih tampak bugar untuk ukuran seusianya. Walaupun, bila berjalan harus dituntun agar lebih seimbang secara umum fisiknya menunjukkan bahwa kakek ini masih cukup segar di usianya yang memasuki kepala delapan. Pemeriksaan fisik pun menyatakan demikian, jantung dan parunya masih dalam batas normal. Walaupun sudah lebih dari 20 tahun ini menggunakan antihipertensi, namun hal tersebut tidak mempengaruhi fungsi jantung dan pembuluh darahnya saat ini. Sayangnya tidak demikian dengan kondisi mental emosionalnya. Selain mengalami penurunan suasana perasaan dan kurangnya gairah hidup, pasien juga mengalami gangguan daya ingat yang nyata terlihat.
            Penurunan daya ingat sebenarnya sudah berlangsung lama, sekitar 5 tahun belakangan ini, namun semakin diperparah sejak pasien ditinggalkan oleh istrinya tercinta. Kondisi depresi memperparah gangguan kognitif yang dideritanya. Sudah sejak dua tahun belakangan ini, pasien menjadi salah satu pasien lansia yang saya rawat. Pengobatan dengan obat antidepresan dan antidemensia diberikan kepada pasien karena kondisi sakitnya saat ini.
            Anak pasien yang tinggal dengan pasien mengatakan pasien dibawa ke psikiater awalnya karena kondisi depresi yang nyata pasca kehilangan istri yang meninggal, namun belakangan gangguan kognitifnya pun semakin menjadi-jadi dan dirasakan perlu penanganan segera. Saat ini, kondisi gejala depresi sudah jauh membaik dan penurunan kognitif yang nyata sudah tidak tampak lagi.
·       Depresi Pada Lansia
  Kecenderungan mengalami depresi meningkat sejalan bertambahnya usia. Kaum lansia merupakan salah satu kelompok orang yang rentan mengalami depresi sepanjang hidupnya. Sekitar 1-5% populasi lansia mengalami gangguan depresi. Angka ini bertambah besar sampai 13.5% pada lansia yang mengalami gangguan medis dan harus mendapatkan perawatan di rawat inap. Kondisi depresi pada pasien lansia banyak dihubungkan dengan kebugaran fisiknya.
  Orang lansia yang mengalami kondisi medis umum terkait dengan penyakit degeneratif (hipertensi,kencing manis,rematik) lebih rentan mengalami depresi dibandingkan yang tidak. Selain itu sindrom “sarang burung kosong” atau Empty Nest Syndrome (seringkali ditulis dengan pendekatan bahasa dan bunyi kata menjadi Emptiness Syndrome atau sindrom kesepian) akibat kehilangan anak atau keluarga yang biasanya mendampingi. Ini biasanya terjadi pada lansia yang ditinggalkan anaknya menikah atau pisah dari rumahnya selama ini. Gangguan depresi pada lansia bisa terjadi dengan berbagai gejala, paling banyak dilaporkan adalah adanya gejala-gejala fisik. Insomnia atau sulit tidur, nyeri otot dan sendi, gangguan cemas dan kurang nafsu makan adalah gejala-gejala depresi yang sering timbul pada lansia. Gejala-gejala fisik ini akan menjadi sulit dibedakan dengan gejala fisik pada kondisi medis umum karena sering kali mirip dan merupakan bagian yang saling mempengaruhi. Untuk itulah, dokter yang merawat pasien lansia harus memahami betul konsep biopsikososial dan psikosomatik medis ketika menangani pasien lansia karena gejala-gejala gangguan kejiwaan tersering pada lansia seperti depresi bisa bermanifestasi dalam bentuk keluhan fisik.
·       Pikun Itu Penyakit
  Gangguan kognitif seperti menurunnya daya ingat pada lansia sering dianggap hal yang biasa. Padahal penurunan kognitif termasuk daya ingat ini adalah suatu gangguan jiwa yang paling sering dialami, tetapi tidak dideteksi dan ditangani secara baik pada pasien-pasien lansia. Walaupun dianggap biasa, sebenarnya tidak semua lansia akan mengalami penurunan kognitif apalagi yang sampai dikategorikan mengalami demensia atau penyakit pikun. Kebanyakan masih berkisar di awal kemunduran yang disebut mild cognitive impairment (MCI) atau gangguan kognitif ringan. Penyakit pikun atau demensia sendiri jika terjadi penurunan yang sangat parah dari fungsi kognitif, bukan hanya fungsi mengingat tetapi fungsi daya pikir yang lain seperti kesuliltan dalam memutuskan sesuatu, melakukan sesuatu dalam urutan, atau adanya gangguan emosional dan perilaku terkait penyakit demensia.
  Kebanyakan pasien lansia yang mempunyai penyakit pikun datang ke psikiater karena mengalami gejala-gejala gangguan perilaku dan emosional. Mereka bisa mengalami halusinasi dan gangguan daya pikir, curiga kepada sekitar atau takut kalau ada orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada dirinya. Sering kali mereka mengatakan ada orang-orang atau teman-temannya yang sudah meninggal dan datang mengunjungi pasien. Pada pemeriksaan status mental di klinik biasanya mereka sering kali mengulang-ngulang cerita atau bahkan diam sama sekali. Pasien yang mengalami kepikunan yang parah hidupnya sudah sangat tergantung dengan orang lain dan cenderung menjadi “bayi dewasa”.
·       Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia
  Sesuai dengan tema hari kesehatan jiwa sedunia 7 April untuk Indonesia tema yang diambil adalah “Menuju Tua Sehat, Mandiri dan Produktif” maka banyak hal-hal yang bisa kita persiapkan dari sekarang. Ada beberapa di antara kita yang 20-40 tahun ke depan akan masuk ke dalam kategori lansia dan persiapan ke arah sana sudah perlu disiapkan dari sekarang. Selain menjaga kesehatan fisik dan mental, kesiapan ekonomi dan produktivitas juga saat ini mungkin sudah perlu dipikirkan. Kita berharap kita bukan menjadi orang-orang lansia pensiun yang jadi tergantung dengan anak-anak kita nanti walaupun secara budaya hal itu biasa terjadi di Indonesia. Semoga kita semua dapat mempersiapkan diri dari sekarang.

Kesimpulan
            Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.
            Setelah seseorang memasuki masa lansia, umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi patologis (tidak sehat) berganda, misalnya: tenaga berkurang, energi menurun, kulit keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologis, maupun sosial, sehingga dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam hal ini, agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan fisik dengan kondisi psikologis maupun sosial, sehingga mau tidak mau, perlu untuk mengurangi kegiatan yang bersifat mem-forsir fisiknya. Seorang lansia perlu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat, dan olah raga yang seimbang.
Ada dua tahapan siklus hidup menurut Erickson, yaitu Integrity vs Despair (Integritas dan Kekecewaan). Kemudian,  terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
·        Perubahan fisik khususnya organ perasa.
·        Kesehatan umum
·        Tingkat pendidikan
·        Hereditas
·        Lingkungan
            Menurut wahyudi nugroho, dalam keperawatan gerontology, gangguan mental pada lansia, antara lain agresi, kemarahan, kecemasan, kekacauan mental, penolakan, ketergantungan, depresi, manipulasi, mengalami rasa sakit, kehilangan rasa sedih, dan kecewa.

   

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, 1999., Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Erlangga, Jakarta.
www.psikomedia.com/article/view/Psikologi-Perkembangan/2145/Psikologi-Lansia/
kuliahpsikologi.dekrizky.com/masa-dewasa-lanjut
blog-indonesia.com/blog-archive-12132-393.html
pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-234-1769780408-babii.pdf

0 komentar:

Poskan Komentar